Kamis, 18 Maret 2010
Apa itu Shinkansen?
Shin artinya baru. Kansen artinya jaringan rel. Jadi Shinkansen artinya jaringan rel baru. Kurang lebih seperti itu.
Shinkansen adalah nama sebuah jaringan kereta api listrik super cepat yang dikelola oleh perusahaan Japan Railways Group sejak tahun 1964 dengan kereta pertamanya adalah Tokaido Shinkansen 0 Series ciptaan Kawasaki Heavy Industries yang berkecepatan "hanya" 210 km/jam.
Itu dulu banget lho.
Sekarang Guinness Book of World Records telah mencatat Tokaido Shinkansen MLX01 sebagai kereta tercepat di dunia dengan kecepatan maksimal 581 km/jam.

Sebagai perbandingan: dari Jakarta ke Bandung naik kereta api Argo Gede bisa memakan waktu sekitar 4 jam perjalanan, tapi kalau naik Shinkansen paling 1/2 jam doang.
Di dunia barat, Shinkansen dikenal juga dengan nama "bullet train" atau "kereta peluru" yang memang dilihat dari bentuknya yang mirip peluru dan kecepatannya yang super tinggi.
Kereta Shinkansen membutuhkan waktu kurang lebih 90 detik untuk mencapai kecepatan 500 km/jam dari titik nol. Pernah terlambat gak kereta Shinkansen? Pernah dong.
Rata-rata keterlambatan Shinkansen adalah 6 detik!
Itu sudah termasuk segala jenis human error, cuaca buruk, dan gempa bumi. Sedangkan tingkat keamanannya juga yang tertinggi di dunia dengan jumlah kematian 0% selama Shinkansen beroperasi.
Saat ini JRG mengoperasikan 8 rute/jalur Shinkansen yang mencakup pulau Honshu dan Kyushu, yaitu rute Tokaido, Tohoku, Akita, Yamagata, Joetsu, Nagano, Sanyo, dan Kyushu.
Rute Tokaido adalah jalur kereta tersibuk di dunia yang telah mengangkut lebih dari 6 miliar penumpang. Sedangkan rute tersibuk di Jepang adalah Tokyo-Osaka dengan 10 kereta Shinkansen bolak balik setiap jamnya yang masing-masing membawa 16 gerbong berkapasitas 1.300 tempat duduk.
Bagaimana dengan harganya?
Naik Tokaido Shinkansen dari Tokyo ke Osaka yang jaraknya sekitar 552 km harga tiketnya adalah 13.750 yen (atau sekitar Rp. 1.400.000) untuk satu orang dewasa.
Harganya bisa dibilang sama dengan harga tiket pesawat terbang Skymark (sekelas AirAsia), tapi kenapa masih banyak yang pake kereta Shinkansen?
gila mamen
Kimono adalah pakaian tradisional negara Jepang untuk pria dan wanita yang sudah ada sejak jaman dahulu kala. Baru pada jaman Edo, kimono mengalami perubahan yang sampai sekarang masih dipertahankan, yaitu lengan kimono yang sedikit lebih panjang bagi wanita yang belum menikah dan obi (sabuk lebar untuk mengencangkan kimono) yang semakin besar.

Kimono berasal dari kata Ki yang berarti mengenakan, dan Mono yang berarti pakaian. Jadi arti kimono adalah mengenakan pakaian. Gampang juga ya?
Tapi kalo soal harga dan cara bikinnya, kimono gak ada gampangnya. Kimono yang berbahan dasar sutra bisa dihargai Rp 50 juta keatas, bahkan ada yang sampai Rp 300 juta untuk satu set lengkap bersama obi, geta (sendal khusus kimono) dan aksesoris lainnya. Cara memakainya pun tidak sembarangan dan ada namanya sendiri, yaitu Kitsuke.
mahaal
Makanya jangan heran kalo orang-orang Jepang sendiri gak sanggup beli kimono sutra. Biasanya para orangtua-lah yang mewariskan kimono sutranya. Hanya para pejabat, artis, pesumo tingkat satu dan keluarga kerajaan yang sanggup gonta-ganti kimono sutra.
Lalu bagaimana bisa banyak orang Jepang pake kimono?
Untuk pesta pernikahan, mereka memang sewa kimono sutra perhari, tapi untuk pesta-pesta nonformal seperti festival kembang api dan pesta tahun baru, mereka membeli dan memakai yukata.
Singkatnya, yukata adalah kimono yang bersifat kasual, lebih santai dan lebih sederhana. Yukata mengandung arti pakaian mandi, karena pada awalnya yukata hanya dipakai pada waktu sebelum dan sesudah mandi.
Tapi sekarang pemakaian yukata tidak terbatas. Kapan saja boleh dipakai. Di musim panas akan lebih banyak lagi orang yang memakai yukata karena mereka merasa sejuk.
Banyak orang tidak tahu kalau kimono itu banyak jenisnya, sesuai dengan tingkat formalitas dan status pemakainya.
Uchikake (打掛) adalah kimono formal yang berwarna berwarna putih atau merah terang yang dipakai oleh sang pengantin di hari pernikahannya.
Kurotomesode (黒留袖) adalah kimono formal berwarna hitam yang dipakai oleh para orangtua di hari pernikahan anaknya.
Furisode (振袖) adalah kimono yang dipakai oleh wanita yang belum menikah di acara-acara formal dan Seijin shiki (成人式), upacara tradisional untuk merayakan sang remaja perempuan yang beranjak dewasa.
Irotomesode (色留袖) adalah kimono semiformal yang dipakai oleh wanita yang telah menikah untuk menghadiri upacara pernikahan keluarganya.
Homongi (訪問着), Tsukesage (付け下げ) dan Edo Komon (江戸小紋) adalah kimono-kimono semiformal yang boleh dipakai oleh wanita yang telah menikah maupun yang belum menikah untuk menghadiri acara-acara formal dan semiformal.
Maiko Hikizuri (舞妓の引きずり) atau Susohiki (すそ引き) adalah kimono-kimono yang dipakai khusus oleh para geisha dan maiko.
Iromuji (色無地) adalah kimono yang dipakai untuk upacara minum teh.
Dan yang terakhir adalah Yukata (浴衣).
Umumnya yukata berbahan dasar katun dan dibikin dengan mesin pabrik, lain dengan kimono sutra yang dijahit sepenuhnya oleh tangan-tangan ahli. Karena itu harga yukata pun jauh berbeda dengan kimono sutra dan terjangkau oleh semua orang.
Sekarang ini kimono memang telah banyak dimodifikasi untuk mengikuti perkembangan mode dan minat kawula muda yang suka dengan kebebasan (harajuku), manga dan anime modern (cosplay). Walaupun begitu, kimono tradisional tetap menjadi primadona.

Kalo para gadis Jepang ada festival Hina Matsuri, maka pada tanggal 5 Mei ini, gantian para lelakinya yang merayakan hari Kodomo no Hi.
Pada mulanya, perayaan ini dinamakan Tango No Sekku (端午の節句), semacam perayaan untuk menandai datangnya musim panas dan dirayakan di hari kelima di bulan kelima. Di jaman modern ini dikenal juga sebagai harinya anak laki-laki.

Nah di hari inilah para keluarga Jepang memasang bendera ikan koi satu untuk setiap laki-laki (baik ayah maupun anak), yang menurut legenda China; ikan koi bisa berubah menjadi naga yang bisa menerjang apapun (alias kuat) dan membawa keberuntungan.
Yang berwarna hitam dan berukuran paling besar untuk sang ayah, yang berwarna merah untuk anak tertua, dan yang berukuran kecil untuk anak lebih kecil.
Di tahun 1948, pemerintah Jepang secara resmi menjadikan hari Kodomo no Hi sebagai hari libur nasional. Inilah yang membuat beberapa orang Jepang berpikir kenapa Hina Matsuri gak dijadikan hari libur nasional juga? Gak adil untuk para gadis kan?
gak adil yahh 

Hesokuri: Tabungan Rahasia Para Istri 臍繰り
0 komentar Diposkan oleh Rachel ransya di Kamis, Maret 18, 2010Krisis ekonomi memang membuat semua orang melakukan penghematan.
Tak terkecuali para ibu rumah tangga di Jepang yang "tabungan rahasia" mereka berkurang sekitar 20 persen di tahun lalu untuk menutup biaya hidup setelah penghasilan keluarga menurun.
Dalam keluarga Jepang, istri biasanya mengendalikan dompet rumah tangga. Kebanyakan suami Jepang kekurangan waktu atau tidak suka dengan perencanaan keuangan dan membayar tagihan ini, tagihan itu. Karena perencanaan anggaran belanja dianggap sebagai aspek penting dalam sebuah manajemen rumah tangga - inilah pekerjaan utama para wanita Jepang yang sudah menikah.
Kadang-kadang ibu rumah tangga menyisihkan sedikit uang sebagai "tabungan rahasia." Tujuannya untuk menutupi pengeluaran darurat yang tak terduga, untuk membeli hadiah bagi anggota keluarga, atau mungkin membelanjakannya tanpa sepengetahuan suami.
Tabungan rahasia ini disebut hesokuri.

Sudah menjadi tradisi bahwa para ibu rumah tangga-lah yang mengontrol keuangan keluarga di Jepang. Setiap bulannya mereka mengumpulkan gaji suami mereka dan menyerahkannya kembali dalam bentuk uang saku untuk menutupi biaya makan siang, minum kopi dan sake dengan teman.
Lalu sedikit uang disisihkan secara diam-diam dari rekening rumah tangga, dan biasanya tersembunyi di tempat dimana anggota keluarga yang lain tidak akan menemukannya. Bahkan kadang-kadang mereka sendiri lupa dimana mereka menaruh tabungan rahasia mereka - karena itu gak heran para mangaka sering menampilkan adegan "lupa" ini di komik mereka.
Meskipun hesokuri umumnya diasosiasikan dengan ibu rumah tangga, suami-pun bisa saja menyisihkan tabungan rahasia mereka juga. Banyak laki-laki menjaga rahasia tabungannya di laci meja yang terkunci di tempat kerja.
kenapa gak tabok aja yahh suaminya klo gak ngasi duit 


Setsubun atau bisa disebut juga Risshun (立春) dirayakan setiap tanggal 3 Februari sebagai bagian dari festival musim semi (Haru Matsuri).
Dalam hubungannya dengan Tahun Baru Imlek, Haru Matsuri dan Setsubun sebelumnya dianggap sebagai semacam perayaan malam tahun baru yang disertai dengan ritual khusus untuk membersihkan segala roh-roh jahat yang berasal dari tahun lalu dan mengusir roh-roh pembawa penyakit di tahun yang baru. Ritual khusus ini disebut mamemaki (豆撒き) yang artinya melempar kacang. 

Mamemaki biasanya dilakukan oleh toshiotoko (年男) yaitu sang kepala rumah tangga atau laki-laki yang shio-nya sama dengan tahun baru kalender China. Meskipun begitu sekarang malah lebih banyak anak-anak yang melempar kacangnya, sebagai simbol untuk mengusir roh jahat dari kehidupan mereka yang masih sangat panjang.
Kacang yang dilempar adalah jenis kacang kedelai yang dipanggang (disebut juga Fuku Mame). Kacang-kacang tersebut dilemparkan ke luar pintu atau kepada anggota keluarga yang mengenakan topeng Oni (setan atau raksasa), sambil menyanyikan lagu "Oni wa soto! Fuku wa uchi!" (鬼 は 外! 福 は 内!) yang artinya kira-kira seperti "Setan keluarlah! Keberuntungan masuklah!"
Tapi kenapa kacang ya? Karena orang-orang Jepang jaman dulu percaya kalau kacang-kacangan dapat membawa keberuntungan dengan memakannya minimal satu kali dalam setahun.
hmm gtu yahh org jepang suka makan kacang ternyata


Sushi Obama
Tampaknya orang-orang Jepang sangat menyukai presiden Obama.
Ken Kawasumi adalah seorang koki ternama dari Tokyo Sushi Academy yang gemar menciptakan sesuatu yang baru dalam bentuk makanan. Kali ini dia menciptakan sushi yang berbentuk wajah Obama.

sayangnya untuk tidak dijual 
klo begitu di dalam menyambut kedatangan obama indonesia harus buat kue ato makanan tradisional yang mirip obama juga nihh jangan mau kalah yahh
ganbatte kudasai
Selasa, 09 Februari 2010
Kleinda Uchiha January 26 at 7:02pm Reply
gommen....
ada yang ketinggalan nie,,,,
hehehe... mohon di maklumi ya....
TOKOH SAMURAI
1.Naoe Kanetsugu
Naoe Kanetsugu adalah seorang Bushi zaman Sengoku, zaman Azuchi Mamoyama hingga awal zaman Edo. Kanetsugu dilahirkan pada tahun 1560 di provinsi Echigo sebagai putra pertama Higuchi Kanetoyo yang merupakan pengikut Nagao Masakage, dan ibu dari klan Izumi asal Shinshu. Ayah Kanetsugu disebut-sebut sebagai keturunan Higuchi Kanemitsu yang bekerja sebagai penasehat senior Minamoto Yoshinaka. Di masa tuanya, Kanetsugu sempat bertempur di pihak Toku gawa dalam Pertempuran Osaka tahun 1614. Di rumah kediaman uroko-yashiki di Edo, Kanetsugu wafat di usia 60 tahun pada tanggal 19 Desember 1619.
2. Muso Gonnosuke Katsuyoshi
Muso Gonnosuke Katsuyoshiadalah Samurai pada awal tahun1600. Muso dilahirkan dari keluarga Samurai yang merupakan keturunan dari Kiso kanja no Taiyo Kakumei, pelayan Minamoto Yoshinaka. Nama keluarga Gonnosuke seharusnya Hirano, dan nama panggilan Muso adah Gonbei, pendiri dari dojo Jojutsu Koryu beraliran Shinto Muso Ryu. Pertarungan yang membuat dirinya terkenal melawan Miyamoto Musashi.
3.Miyamoto Musashi
Miyamoto Musashi (1584-1645), yang lebih dikenal dengan nama Musashi ini memiliki nama lengkap Shinmen Musashi No Kami Fujiwara Genshin. Semasa kecil, Musashi dipanggil dengan nama Bennosuke. Dengan kemamapuan yang dimiliki Musashi ia dikenal dengan nama Kensei yang berarti Dewa Pedang. Akhirnya Musashi meninggal di Kyusu pada tahun 1645.
4.Sasaki Kojiro
Sasaki Kojiro lahir di daerah Fukui pada tahun 1585. Kojiro hidup dari zaman Sengoku sampai awal zaman Edo. Pertarungannya dengan Miyamoto Musashi di Ganryu Island menjadi sejarah sampai sekarang. Kojiro memiliki tehknik pedang Ganryu yang kemudian dijadikan nama sebuah dojo yang didirikannya. Mendengar kepopuleran Kojiro, Miyamoto Musashi meminta Hasokawa Tadaoki untuk mengatur duel antara mereka berdua. Pertarungan disiapkan pada tanggal 13 April 1612. Dalam pertarungan tersebut, Kojiro berhasil dikalahkan oleh musashi dengan memukul iga kiri Kojiro yang menyebabkan patah dan menusuk paru-parunya yang menyebabkan kematian bagi Kojiro.
Pada zaman Nara (710-784), pemerintahan Jepang memberlakukan sistem wajib militer yang diperintah secara langsung oleh Kaisar. Dengan adanya wajib militer ini, seluruh kaum lelaki diwajibkan untuk mengikutinya, kecuali kaum budak. Meski peraturan ini bersifat wajib, bagi mereka yang tidak memenuhi syarat dan tidak mampu menjalaninya, akhirnya mereka memilih untuk “membelot” dan melarikan diri dari peraturan tersebut. Beberapa sebab yang membuat mereka merasa keberatan adalah materi yang cukup membebankan. Di sisi lain, kaum petani yang juga termasuk wajib militer pun tidak sanggup melanjutkan akibat beban pajak yang mencekik.
Peraturan ini tidak membuat jepang kehilangan “pengikut” wajib militer, karena bagi kaum bangsawan, terutama yang melirik “masa depan” akhirnya mengikutinya. Dari beberapa “pengikut” peraturan ini akhirnya menjadi kelompok pasukanyang dikenal dengan Sakimori atau pembela.
Menginjak tahun 794, Ibu Kota yang berpusat di Nara akhirnya dipindahkan ke Heian (Kyoto). Pada masa-masa ini, kaum bangsawan kemudian memetik buah hasil pemerintahan Kaisar selama kurang lebih 150 tahun. Namun di sisi lain, dengan adanya sistem pungut pajak yang sangat besar, menimbulkan pemberontakan besar di setiap daerah yang kebanyakan terdiri dari kaum petani.
Para petani ini kemudian mulai melakukan penjarahan kepada masing-masing Tuan Tanah (Daimyo) yang diikutinya. Dikarenakan keadaan yang tidak aman, memaksa para pemilik Shoen (tanah bebas pajak) mempersenjatai keluarga dan petaninya. Kondisi ini yang kemudian melahirkan kelas militer yang dikenal dengan Samurai.
1. KATA SAMURAI
Kata Samurai berasal dari kata kerja dalam bahasa Jepang kuno “Samorau”. Kata tersebut akhirnya mengalami perubahan menjadi “Saburau” yang berarti melayani. Sehingga “Samurai” dapat diartikan sebagai pelayan bagi sang majikan.
Dalam catatan sejarahnya, Samurai sebenarnya diciptakan sebagai “satria bersenjata”, oleh karena itu, pada zaman Edo, Samurai lebih dikenal dengan sebutan Bushi (orang bersenjata).Berikut ini adalah beberapa sebutan untuk Samurai. Diantaranya adalah Buke (ahli bela diri), Musha atau Bugeisha (pakar bela diri), Kabukimono (preman samurai),dan Mononofu (satria panglima).
Pada masa terbentuknya pengelompokkan antar golongan, membuat Samurai juga menerapkannya. Samurai lebih menekankan dirinya sebagai prajurit elit dari kalangan bangsawan yang sopan dan terpelajar. Dan hal ini tentunya sangat berbeda dengan Ashigaru atau tentara berjalan kaki. Beberapa kelompok Samurai yang lain adalah Ronin (orang ombak ; Samurai yang tak bertuan), dan Hanshi (Samurai yang bertugas di wilayah Han)
2. SENJATA SAMURAI
Pada awal terbentuknya Samurai, mereka masih tergolong bukan kelompok yang bersenjata lengkap. Mereka mempersenjatai diri dengan “alat tempur” pada umumnya seperti busur dan panah. Buser dan panah, atau disebut dengan Yumi ini masih sering digunakan Samurai hingga abad ke-16. Senjata ini biasanya digunakan oleh Samurai dengan cara berdiri di belakang Tedate, yaitu perisai kayu yang besar. Selain itu, Yumi juga dapat digunakan dengancara menunggang kuda. Yumi sering digunakan dalam peperangan jarak jauh karena dinilai efisien dalam menyerah musuh. Jarak serang dari Yumi mampu menjangkau antara 100 hingga 200 meter.
Setelah mengalami berkembangan berbagai ilmu perang dan pertempuran, Samurai akhirnya menemukan senjata yang paling efisien. Setelah pertempuran melawan Mongol pada tahun 1281, pasukan militer Jepang akhirnya menggunakan pedang sebagai senjatanya utamanya. Dalam Bushido, diajarkan bahwa Katakana(pedang) adalah roh dari Samurai. Mereka percaya bahwa Katakana sangat penting dalam memberi kehormatan dan bagian dalam kehidupan. Sebelum zaman Kamakura (1185-1333), istilah Katakana lebih dikenal dengan Tachi dan Uchigatana.
Budaya Jepang mencakup interaksi antara budaya asli Jomon yang kokoh dengan pengaruh dari luar negeri yang menyusul. Mula-mula Cina dan Korea banyak membawa pengaruh, bermula dengan perkembangan budaya Yayoi sekitar 300 SM. Gabungan tradisi budaya Yunani dan India, mempengaruhi seni dan keagamaan Jepang sejak abad ke-6 Masehi, dilengkapi dengan pengenalan agama Buddha sekte Mahayana. Sejak abad ke-16, pengaruh Eropa menonjol, disusul dengan pengaruh Amerika Serikat yang mendominasi Jepang setelah berakhirnya Perang Dunia II. Jepang turut mengembangkan budaya yang original dan unik, dalam seni (ikebana, origami, ukiyo-e), kerajinan tangan (pahatan, tembikar, persembahan (boneka bunraku, tarian tradisional, kabuki, noh, rakugo), dan tradisi (permainan Jepang, onsen, sento, upacara minum teh, taman Jepang), serta makanan Jepang.
Kini, Jepang merupakan salah sebuah pengekspor budaya pop yang terbesar. Anime, manga, mode, film, kesusastraan, permainan video, dan musik Jepang menerima sambutan hangat di seluruh dunia, terutama di negara-negara Asia yang lain. Pemuda Jepang gemar menciptakan trend baru dan kegemaran mengikut gaya mereka mempengaruhi mode dan trend seluruh dunia. Pasar muda-mudi yang amat baik merupakan ujian untuk produk-produk elektronik konsumen yang baru, di mana gaya dan fungsinya ditentukan oleh pengguna Jepang, sebelum dipertimbangkan untuk diedarkan ke seluruh dunia.
Baru-baru ini Jepang mula mengekspor satu lagi komoditas budaya yang bernilai: olahragawan. Popularitas pemain bisbol Jepang di Amerika Serikat meningkatkan kesadaran warga negara Barat tersebut terhadap segalanya mengenai Jepang.
Orang Jepang biasanya gemar memakan makanan tradisi mereka. Sebagian besar acara TV pada waktu petang dikhususkan pada penemuan dan penghasilan makanan tradisional yang bermutu. Makanan Jepang mencetak nama di seluruh dunia dengan sushi, yang biasanya dibuat dari pelbagai jenis ikan mentah yang digabungkan dengan nasi dan wasabi. Sushi memiliki banyak penggemar di seluruh dunia. Makanan Jepang bertumpu pada peralihan musim, dengan menghidangkan mi dingin dan sashimi pada musim panas, sedangkan ramen panas dan shabu-shabu pada musim dingin.
A. Kata Penunjuk Benda
1) kore, sore, are
kore = ini, dipakai untuk menunjukkan benda yang ada di dekat si pembicara
sore = itu, dipakai untuk menunjukkan benda yang ada di dekat orang yang diajak bicara
are = itu, dipakai untuk menunjukkan benda yang ada tapi jauh dari si pembicara dan yang diajak bicara.
kore, sore, are tidak bisa langsung diikuti dengan K. Benda.
Misalnya:
Kore wa terebi desu = Ini adalah televisi.
2) kono, sono, ano
kono (= ~ini), sono (= ~itu), ano (= ~itu) dipakai untuk menerangkan kata benda, dan diletakkan di depan K. Benda.
Misalnya:
Kono hon wa watashi no desu = Buku ini kepunyaan saya.
B. Kata Penunjuk Tempat
1) koko, soko, asoko, doko, kochira, sochira, achira, dochira
koko (= sini), soko (= sana) dan asoko (= sana) dipakai untuk menunjukkan tempat.
Sedangkan kochira (= sebelah sini), sochira (= sebelah sana) dan achira (= sebelah sana) adalah bentuk sopan dari koko, soko dan asoko selain untuk menunjukkan arah.
Misalnya:
Anata no kaisha wa doko desu ka = Anda bekerja dimana?
Anata no kaisha wa dochira desu ka = Anda bekerja di perusahaan apa?
Apa bedanya dore, dono, doko dan dochira?
Dore berarti yang mana.
Dono berarti ~ mana + K. Benda. Dono selalu diikuti kata benda.
Doko berarti dimana.
Dochira berarti sebelah mana.
Pelajaran 3: Partikel
1. no (の)
a. no menunjukkan kepunyaan.
Watashi no enpitsu desu = わたしのえんぴつです = Pensil saya.
b. K. Benda setelah no dapat dihilangkan, bila tanpa kata itupun benda yang dimaksud sudah bisa dimaklumi. Tetapi bila K. Benda yang dimaksud adalah orang, maka pada umumnya tidak dihilangkan.
Are wa dare no tokei desu ka = あれはだれのとけいですか = Itu jam siapa?
Kimura-san no (tokei) desu = きむら さんのです = Itu punya Sdr. Kimura.
c. Selain bisa menghubungkan K. Benda dengan K. Benda, no juga memiliki banyak macam penggunaan. Misalnya:
Denwa no kaisha = でんわのかいしゃ= perusahaan telepon
Nihon no dejikame = にほんのデジカメ = Kamera digital buatan Kepang
Kinou no asa = きのうのあさ = Pagi kemarin
2. ni (に)
Formula: B (waktu) に, artinya Pada waktu B.
Partikel ni dipakai setelah K. Benda yang menunjukkan waktu kejadian, tetapi bila waktu itu TIDAK dinyatakan dengan suatu bilangan, maka ni tidak perlu dipakai.
Watashi wa 6-ji ni okimasu = わたしは6じにおきます = Saya bangun pada pukul 6.
Watashi ha 4-gatsu 11-nichi ni Nihon e kimashita = わたしは4がつ11にちににほんへきました= Saya datang di Jepang pada tanggal 15 bulan April.
Konban benkyou-shimasu = こんばんべんきょうします= Saya belajar malam ini.
Kinou terebi wo mimashita = きのうテレビをみました= Kemarin saya melihat televisi.
3. Hai, sou desu (はい、そうです) dan Iie, sou dewa arimasen (いいえ、そうではありません)
Untuk menjawab kalimat tanya yang predikatnya K. Benda, sering dipakai sou, sou desu, atau sou dewa arimasen. Misalnya:
Anata wa Batam-denki no syain desu ka = あなたはバタムでんきのしゃいんですか= Apakah anda karyawan Batam-kikai?
--> Hai, Batam-kikai no syain desu = はい、バタムきかいのしゃいんです= Ya, saya karyawan Batam-kikai.
--> Hai, sou desu = はい、そうです= Ya, begitu.
--> Iie, Batam-kikai no syain dewa arimasen = いいえ、バタムきかいのしゃいんではありません= Bukan, saya bukan karyawan Batam-kikai.
--> ie, sou dewa arimasen = いいえ、そうではありません= Bukan, bukan begitu.
Oke, nampaknya setelah ini kamu sudah bisa membuat contoh-contoh kalimat tanya dan menjawabnya dengan ya atau tidak. Gunakan kata-kata yang ada dalam posting mengenai kosa kata. Cobalah.
Pelajaran 4
1. ~masu
~masu adalah imbuhan pada akhir K. Kerja, dan dipakai untuk menunjukkan rasa hormat kepada lawan bicara.
Misalnya:
はたらきます = hatarakimasu = bekerja
おきます = okimasu = bangun
ねます = nemasu = tidur
2. Perubahan bentuk ~masu
Dalam bahasa Jepang, terdapat perubahan bentuk K. Kerja, misalnya menurut waktu lampau dan waktu yang akan datang. Selain itu, ada pula bentuk kenyataan yang tak ada kaitan dengan waktu, misalnya kebiasaan, bentuk waktu sekarang dan waktu yang akan datang.
Contohnya, begini ni:
Waktu Non Lampau: ~masu
Waktu Lampau: ~mashita
Contoh: okimasu (Bangun [tidur])
Contoh: okimashita (Bangun [tidur-lampau])
Contoh: hatarakimasu (Kerja)
Contoh: hatarakimashita (Sudah kerja)
Contoh kalimatnya:
Maiasa 8-ji ni hatarakimasu = Setiap pagi bekerja jam 8.
Ashita 10-ji ni hatarakimasu = Besok bekerja jam 10.
Kinou 7-ji ni hatarakimashita = Kemarin bekerja jam 7.
Kemarin adalah bentuk lampau (sudah lewat), maka yang dipakai adalah kata kerja yang berakhiran dengan ~mashita. Sedangkan maiasa dan ashita menunjuk waktu bukan lampau, tapi kebiasaan dan akan datang sehingga memakai akhiran ~masu.
3. Sou desu ka (そう です か)
walaupun berakhiran dengan ka, sou desu ka bukanlah kalimat tanya, tapi sekedar untuk memperlihatkan bahwa kita mengikuti pembicaraan lawan. Intonasi pada bagian akhir menurun.
Misalnya:
A: Nihon-go no benkyou wa nan-ni made desu ka = Pelajaran bahasa Jepang sampai jam berapa?
B: 12-ji made desu. = Sampai jam 12.
A: Sou desu ka = Oh, begitu.
4. Kalimat yo (よ)
Seringkali kita mendengar kalimat yang berakhiran dengan yo. Yo pada akhir kalimat menekankan hal yang ingin kita beritahukan kepada lawan bicara. Ucapkan yo secara ringan, karena bila terlalu kuat dapat berkesan memaksa.
Misal:
Kono densha wa Oosaka e ikimasu ka = Apakah kereta ini pergi ke Osaka?
--> Iie, ikimasen. 2-ban sen desu yo. = Tidak, Yang ke Osaka di peron 2!
Kono mise wa pan ga oishii desu yo = Roti di toko ini enak, lho!
Ano mise wa hanba-ru ga oishii desu yo = Hanburger di toko ini enak, lho!
1. Partikel kara (から) dan made (まで)
Formula: B (waktu/tempat) kara B (waktu/tempat) made.
a. Kara menunjukkan titik permulaan waktu atau tempat, sedangkan made menunjukkan titik akhir waktu atau tempat.
Misalnya:
9-ji kara 5-ji made hatarakimasu = Saya bekerja dari jam 9 sampai jam 5.
Oosaka kara Toukyou made donokurai kakarimasuka = Dari Osaka ke Tokyo perlu waktu berapa lama?
b. ~kara belum tentu digunakan bersama-sama dengan ~made.
Misalnya:
8-ji kara Nihon-go o benkyou-shimasu = Saya belajar bahasa Jepang dari jam 8.
5-ji made Nihon-go o benkyou-shimasu = Saya belajar bahasa Jepang sampai jam 5.
c. ~kara dan ~made belum tentu selalu diikuti dengan K. Kerja.
Misalnya:
Nihon-go no benkyou wa 9-ji kara desu = Pelajaran bahasa Jepang dari jam 9.
2. Partikel e (へ, bukan え)
Formula: B (tempat) e (ikimasu / kimasu / kaerimasu).
Artinya: (Pergi / Datang / Pulang) ke B (tempat).
Partikel e menunjukkan arah gerakan atau tempat tujuan yang dinyatakan oleh K. Kerja ikimasu, kimasu, kaerimasu, dan lain-lain.
Misalnya:
Oosaka e ikimasu = Pergi ke Osaka.
3. Partikel de (で)
Formula: B (kendaraan) de.
Artinya: Naik (kendaraan).
Partikel de disini, menunjukkan alat angkutan yang dipakai dalam ikimasu, kimasu, dsb, gerakan yang menunjukkan perpindahan.
Misalnya:
Densha de ikimasu = Saya datang naik kereta.
4. Partikel to (と)
Formula: B (orang) to.
Artinya: Dengan (orang).
To yang digunakan setelah K. Benda yang menunjukkan orang berarti bersama atau dengan.
Misalnya:
Koibito to Nihon e kimashita = Datang ke Jepang bersama pacar.
5. Kata Tanya + (Partikel) + mo (も) + Negatif.
Formula: [ doko(e) / nani / dare ] mo~ ~masen(Negatif).
Artinya: tidak... [(ke) mana-mana/ apa-apa/ siapa-siapa]
Misalnya:
Doko (e) mo ikimasen = Tidak pergi ke mana-mana.
Nani mo tabemasen = Tidak makan apa-apa.
Dare mo imasen = Tidak ada siapa-siapa.
6. Kalimat ka (か)
Formula: Kalimat ka.
Partikel ka pada akhir kalimat tidak selalu menandakan bahwa kalimat itu adalah kalimat tanya. ka mungkin pula untuk menegaskan apa yang dimaksud lawan bicara kita.
Misalnya:
Kaban uriba wa doko desu ka = Tempat penjualan tas di mana?
--> Kaban uriba desu ka. 3-kai desu = Oh, tempat penjualan tas. Di lantai 3.
きれい[な]= kirei[na] = cantik, bagus, bersih
ハンサム[な]= hansamu[na] = gagah, tampan, cakep
しんせつ[な]= shinsetsu[na] = ramah, baik hati
ゆうめい[な]= yuumei[na] = terkenal, ternama
げんき[な]= genki[na] = sehat
しずか[な]= shizuka[na] = tenang, sunyi
にぎやか[な]= nigiyaka[na] = ramai
おおきい= ookii = besar
ちいさい= chiisai = kecil
あたらしい= atarashii = baru
ふるい= furui = lama, kuno, tua (tapi tidak dipakai untuk umur)
いい(よい)= ii (yoi) = bagus, baik
わるい= warui = buruk, tidak baik, jelek, jahat
あつい= atsui = panas
さむい= samui = dingin (hawa)
つめたい= tsumetai = dingin (untuk barang)
むずかしい= muzukashii = sulit, sukar, susah
やさしい= yasashii = mudah, gampang
たかい= takai = mahal, tinggi
やすい= yasui = murah
ひくい= hikui = rendah
おもしろい= omoshiroi = menarik, menyenangkan, lucu
おいしい= oishii = enak, lezat
しろい= shiroi = putih
くろい= kuroi = hitam
あかい= akai = merah
あおい= aoi = biru
みどり= midori = hijau
きいろ= kiiro = kuning
しけん= shiken = ujian
しゅくだい= shukudai = pekerjaan rumah
たべもの= tabemono = makanan
さくら= sakura = bunga sakura
はな= hana = bunga
まち= machi = kota
やま= yama = gunung
ふじさん= Fujisan = gunung Fuji
ところ= tokoro = tempat
どう= dou = bagaimana
どんあ= donna = yang bagaimana, macam apa
どれ= dore = yang mana
たいへん= taihen = sangat, amat, ~sekali
あまり= amari = tidak begitu (diikuti dengan kalimat negatif)
そして= soshite = dan (dipakai untuk menyambung dua kalimat)
~が= ~ga, ~ = ~, tetapi~
しばらくですね= shibaraku desu ne = Sudah lama tidak berjumpa dengan anda ya.
おげんきですか= o-genki desu ka = Apa kabar?
どうぞこちらへ= douzo kochira e = Silakan kemari.
[コーヒー]はいかがですか= [ko-hi-] wa ikaga desu ka = Bagaimanakah [kopi]? (untuk menawari minuman)
いただきます= itadakimasu = Saya menerima itu dengan rasa terima kasih.
ごちそうさま[でした]= gochisousama[deshita] = Saya telah makan atau minum dengan rasa terima kasih (diucapkan kepada orang yang mengajak).
そうですね= sou desu ne = Coba saya pikir dulu/ooh gitu ya.
きります= kirimasu = memotong
しゅうりします= shuuri -shimasu = memperbaiki, membetulkan
かけます= kakemasu = menelepon
あげます= agemasu = memberi
もらいます= moraimasu = menerima
おしえます= oshiemasu = mengajarkan
ならいます= naraimasu = belajar
かします= kashimasu = meminjamkan
かります= karimasu = meminjam
はし= hashi = sumpit
ナイフ= naifu = pisau
フォーク= fo-ku = garpu
スプーン= supu-n = sendok
はさみ= hasami = gunting
ドライバ= doraiba = obeng
スパナ= supana = kunci sekrup
ペンチ= penchi = tang, penjepit
おかね= okane = uang
プレゼント= purezento = kado, hadiah, pemberian
レポート= repo-to = laporan
かぞく= kazoku = keluarga
おとおさん= otoosan = ayah, bapak
おかあさん= okaasan = ibu
おにいさん= oniisan = kakak laki-laki
おねえさんoneesan = kakak perempuan
おとうと= otouto = adik laki-laki
いもうと= imouto = adik perempuan
おくさん= okusan = isteri (orang lain), nyonya
かない= kanai = isteri (saya)
しゅじん= shujin = suami (saya)
ごしゅじん= go-shujin = suami (orang lain)
こども= kodomo = anak
えいご= eigo = bahasa Inggris
インドネシアご= indonesiago = bahasa Indonesia
~ご= ~go = bahasa~
もう= mou = sudah
まだ= mada = belum
これから= korekara = mulai dari sekarang
おめでとうございます= Omedetou gozaimasu = Selamat (untuk ulang tahun, perkawinan, tahun baru, dsb).
わあ= Waa = Aduh! Wah! (ungkapan pada saat terkejut)
どういたしまして= Dou itashimashite = Terima kasih kembali.
すいます= suimasu = mengisap
かきます= kakimasu = menulis
よみます= yomimasu = membaca
ききます= kikimasu = mendengar
みます= mimasu = melihat, menonton
かいます= kaimasu = membeli
とります= torimasu = mengambil
じっしゅうします= jisshuu-shimasu = mengikuti latihan praktek
します= shimasu = melakukan, mengerjakan, berbuat
あいます= aimasu = bertemu, berjumpa
ごはん= gohan = makan, nasi
あさごはん= asa gohan = sarapan, makan pagi
ひるごはん= hiru gohan = makan siang
ばんごはん= ban gohan = makan malam
たまご= tamago = telur
にく= niku = daging
さかな= sakana = ikan
やさい= yasai = sayuran
ぎゅうにゅう= gyuunyuu = susu
おちゃ= ocha = teh (jepang)
コーヒー= ko-hi- = kopi
ジュース= ju-su = jus (air buah-buahan)
ビール= biiru = bir
[お]さけ= [o]sake = sake, minuman keras
ネクタイ= nekutai = dasi
シャツ= shatsu = kemeja
くつ= kutsu = sepatu
しゃしん= shashin = foto, potret
えいが= eiga = film
ピンポン= pinpon = tenis meja, pingpong
なに= nani = apa
いっしょに= issho ni = bersama-sama
それから= sorekara = setelah itu, kemudian
~と~= ~to~ = ~ dan ~ (digunakan untuk menghubungkan beberapa K. Benda)
もしもし= moshi moshi = Halo (waktu menelepon)
あしたひまですか= ashita hima desu ka = Apakah besok adawaktu luang?
ええ= ee = Ya
いいですね= ii desu ne = Baik / Itu bagus ya.
わかりました= wakarimashita = Mengerti.
またあした= mata ashita = Sampai jumpa besok / Besok bertemu lagi ya.
KUNOICHI (NINJA WANITA)
Meski wanita sering dianggap lemah,dalam ilmu bela diri Ninjutsu tidak membatasi hanya untuk kaum lelaki. Itu sebabanya, ilmu ini pun kemudian juga dipelajari oleh kaum wanita yang kemudian dikenal sebagai Kunoichi. Selain mempelajari ilmu Ninjutsu, Kunoichi juga mempelajari ilmu merayu, memanipulasi, menyamar, dan intuisi. Kemampuan ini memberikan meeka kemudahan dalam menyusup ke pemikiran pemimpin perang, bisnis, bahkan politik sekalian.
Dalam pelaksanaannya sebagai Kunoichi, kebanyakan mereka menyamar sebagai Geisha dan juga seorang biksu perempuan di biara-biara (Miko). Bahkan tidak sedikit Kunoichi yang dengan mudah masuk ke dalam istana walaupun dengan penjagaan yang ketat. Hal ini dikarenakan Kunoichi dilatih juga untuk mempermainkan emosi lelaki, tetapi juga harus bisa mengontrol emosi diri sendiri.
Kebanyakan Kunoichi adalah wanita yang sudah yatim piatu sejak kecil, atau dijual oleh keluargannya untuk kehidupan sehari-hari. Mereka dilatih oleh Kunoichi yang lebih tua dan menjadikan mereka sebagai senjata bagi tuannya. Walaupun begitu, banyak juga Kunoichi dari kalangan social atas, dan menjalankannya dengan kerja keras seperti pada Mochizuki Chiyome. Kunoichi berbeda dengan Ninja laki-laki pada umumnya. Kunoichi lebih mementingkan cara bertarung menggunakan kecepatan dan memukul pada titik vital lawan agar cepat lumpuh dibandingkan dendan kekuatan tubuh.
Berikut ini adalah kemampuan yang sering digunakan oleh Kunoichi.
1. Boryaku : merencanakan strategi dalam menyamar maupun menyusup dalam daerah lawan.
2. Intojutsu : menyamar, menipu, dan membuat ricuh daerah lawan dengan menyebarkan isu-isu negative di kalangan masyarakat.
3. Kayakjutsu : membuat dan menggunakan bahan peledak dalam pertempuran ataupun dalam penyusupan sebagai umpan maupun perlindungan diri.
4. Shinobi Iri : ilmu untuk memasuki daerah lawan, menyusup secara diam-diam ke daerah lawan.
5. Shuriken Jutsu : melemparkan Senjata rahasia.
6. Tanto Jutsu : ilmu menggunakan senjata berupa pisau.
7. Yagen : Ilmu menggunakan Racun
TOKOH KUNOICHI
1.Cho Gyokko (885 – 945)
Seorang putri dari Cina yang menjadi Kunoichi pertama di Jepang ini memiliki nama lain Yo Gyokko, Yao Yu Hu dan Koto Oh ini hampir hilang dari sejarah. Semassa dinasti T’ang, Yao Yu Hu dikenal berhubungan langsung dengan kekaisaran Cina, namun Gyokko akhirnya melarikan diri ke Jepang bersama keluarga kerajaan lainnya saat dinasti T’ang mengalami kehancuran pada tahun 907.Gelar Koto Oh disandang Gyokko setelah mengalahkan dan membunuh macan hanya dengan sekali pukul saat masih di Cina.
2.Mochizuki Chiyome (1540 – 1580)
Saat itu Takeda Shingen ingin membentuk kelompok Ninja wanita untuk dijadikan mata-mata dan pembawa pesan. Shingen menganggap, Kunoichi lebih mudah mengerjakan perkerjaan tersebut karena tidak akan dicurigai oleh pihak lawan. Kemudian Shingen memilih Chitome untuk membentuk Kunoichi yang bisa berarti bunga beracun/mematikan. Chiyome kemudian membentuk pasukannya di Desa Nazu Provinsi Shinani dan mulai mencari kandidat untuk mencari calon Kunoichi.
Setelah mengumpulkan dan melatih Kunoichi, Chiyome menemoatkan mereka di kuil sebagai Miko untuk menyamar. Dalam pelatihannya, chiyome menitijberatkan pada penyerangan titik lemah lawan dengan menggunakan senjata yang umum digunakan wanita sebagai penghias, seperti kuncir rambut.
**TAKOYAKI **
Takoyaki adalah makanan cemilan jepang yang biasa dibuat secara tradisional oleh keluarga-keluarga jepang secara rumahan. Pertama kali dibuat oleh Endo Tomekichi di tokonya yang bernama Aizu di Osaka.
Bentuknya bulat seperti baso, karena itu disebut juga baso panggang jepang (tako=octopus ; yaki=panggang) karena cara pembuatannya tidak digoreng dalam minyak yang banyak, tetapi dipanggang dalam suatu cetakan setengah bulatan kemudian dibalik-balik sehingga berbentuk bulatan penuh.
Takoyaki ini enak disantap panas-panas secara langsung atau sebagai lauk dengan nasi. Bila dalam keadaan dingin, takoyaki akan lebih padat dan kenyal seperti baso.
** OKONOMIYAKI **
Okonomiyaki adalah makanan Jepang dengan bahan tepung terigu yang diencerkan dengan air atau dashi, ditambah kol, telur ayam, makanan laut atau daging babi dan digoreng di atas penggorengan datar yang disebut teppan.
Dalam bahasa Jepang, okonomi berarti “suka-suka” (yang disuka, yang diinginkan) dan yaki berarti “panggang” (istilah “goreng” hanya digunakan di Jepang bila makanan digoreng dengan minyak yang sangat banyak). Sesuai dengan namanya, lapisan atas (topping) okonomiyaki bisa disesuaikan dengan selera orang yang mau memakan.
** DORAYAKI **
Dorayaki adalah kue yang berasal dari Jepang. Dorayaki termasuk ke dalam golongan kue tradisional Jepang (wagashi) yang bentuknya bundar sedikit tembam, terdiri dari dua lembar kue yang direkatkan dengan selai kacang merah. Dorayaki memiliki tekstur yang lembut dan mirip dengan kue Jepang yang disebut Kastela karena adonan yang mengandung madu.
** MANJU **
Manju Adalah tradisional Jepang yang populer . Ada banyak jenis Manju, tetapi kebanyakan memiliki luar dibuat dari tepung terigu, tepung beras dan gandum dan pengisian an (pasta kacang merah), terbuat dari kacang Azuki rebus dan gula. Mereka direbus bersama-sama lagi dan diremas. Ada beberapa jenis pasta kacang yang digunakan termasuk koshian, tsubuan, dan tsubushian.
** MELON PAN **
Melonpan (メロン パン meronpan?), Juga dikenal sebagai panci Melon, Melon Melon roti atau roti, roti manis produk dari Jepang, tetapi juga populer di Taiwan dan Cina. Mereka dibuat dari adonan yang kaya tercakup dalam lapisan tipis adonan kue renyah. Penampilan mereka menyerupai melon, seperti rock melon (semangka). Mereka tidak tradisional rasa melon. [1] tetapi di masa sekarang ini telah menjadi populer untuk produsen untuk menambah melon melon ke roti. Variasi ada, termasuk beberapa dengan beberapa chocolate chips antara lapisan kue dan diperkaya adonan lapisan, dan non-melon dibumbui dengan versi karamel, maple sirup, cokelat, atau rasa lain, kadang-kadang dengan sirup, kocok atau krim rasa, atau puding sebagai pompa. Dalam kasus variasi tersebut, nama dapat membuang kata “semangka” ( “mapel panci”) atau mungkin tetap sekalipun tidak ada rasa melon ( “cokelat melon pan”).
** MOCHI **
Mochi (Jepang: 饼) adalah kue beras Jepang yang terbuat dari beras ketan ditumbuk menjadi pasta dan dibentuk menjadi bentuk. Di Jepang itu secara tradisional dibuat dalam suatu upacara yang disebut mochitsuki. Sementara juga dimakan sepanjang tahun, Mochi adalah makanan tradisional untuk Jepang Tahun Baru dan biasanya dijual dan dimakan selama waktu itu. Mochi juga merupakan camilan terkemuka di Hawaii dan Taiwan.
** KAKIGORI **
Kakigōri (かき氷?) Adalah makanan pencuci mulut Jepang yang terbuat dari rasa es serut dengan sirup.
stroberi, ceri, lemon, teh hijau, anggur, melon, “biru-Hawaii” plum manis, dan berwarna sirup. Beberapa toko menyediakan varietas yang berwarna-warni dengan menggunakan dua atau lebih yang berbeda sirup. Untuk mempermanis Kakigōri, susu kental sering dituangkan di atasnya.
** Chawanmushi **
Chawanmushi (茶碗蒸し, Chawanmushi, secara harfiah “uap cangkir teh” atau “dikukus dalam mangkuk teh”) adalah hidangan custard telur yang ditemukan di Jepang yang menggunakan benih ginkgo. Tidak seperti banyak custard lain, biasanya dimakan sebagai hidangan pembuka. The custard terdiri dari campuran telur dibumbui dengan kecap, dashi, dan mirin, dengan berbagai bahan seperti jamur shiitake, Kamaboko, dan udang direbus ditempatkan dalam cangkir teh seperti wadah. Resep untuk hidangan yang mirip dengan telur dikukus Cina, tapi mungkin sering berbeda topping.
1. uwaki otoko : cowok yang suka selingkuh
2. uwaki onna : cewek yang suka selingkuh
3. choukawaii : manis banget
4. ikemen : cowok cakep
5. otokotarashi : Play Girl
6. onnatarashi : Play Boy
7. hitomebore : cinta pandangan pertama
8. ai shitemo ii? : bolehkah aku mencintaimu?
9. boku no soba ni ite kurenai? : maukah kau berada di sisiku?
10.puropoozu shitemo ii? : bolehkah aku melamarmu?
11.tada anata o aishiteru : aku cuma cinta sama kamu ( per )
tada kimi o aishiteru : aku cuma cinta sama kamu ( laki2 )
12.anata ni aete, yokatta : aku beruntung bisa bertemu denganmu
13.hanaretakunai : aku gak mau putus denganmu
14.anata ni deatte, yokatta : aku senang bisa mengenalmu (dikatakan saat putus dengan pacar)
15.mou wakareta : udah putus
16.ganbatte ne! : semangat!
17.tsumanne : membosankan ( per )
tsumanna : membosankan ( laki2 )
18.mendoukusaina… : malasnya….
19.yatta!! : asyik!!! / berhasil!!
20.sugee : hebat
21.akiramenna!! : jangan putus asa!!
22.namaiki iun ja nee yo : jangan sombong-sombong
23.arienai : gak mungkin
24.nani atta no? : ada apa sih…?
25.oshiete kure! : kasih tau dong!
26.betsu ni : gak ada apa-apa
27.majide? : sumpah lo?
28.sokka : gitu ya… / oya…
29.maa ne : ya gitu deh
30.atarimaeda! : ya iyalah! (ya iya lah, masa ya iya dong)
31.yappa : sudah kuduga
32.shikata nai : apa boleh buat
33.kawaisou : kasian deh lo
34.iya / yada : gak mau
35.usotsuki : pembohong
36.urusai yo! : berisik tau! ( per )
urusee yo! :berisik tau! ( laki2 )
37.jiro-jiro mite nanda yo! apa lo liat-liat!
38.baka mitai : seperti orang bodoh / dasar oon
39.baka yaro : dasar goblok
40.kusso : brengsek / sialan
41.saiteidayo : kamu gak ada apa-apanya
42.sukebe : dasar omes (otak mesum)
43.yabai! : gawat!
44.kimochi warui : sebel
45.suman : sorry
On'yomi (音読み ?) atau ucapan Cina adalah cara membaca aksara kanji mengikuti cara membaca orang Cina sewaktu karakter tersebut diperkenalkan di Jepang. Pengucapan karakter kanji menurut bunyi bahasa Cina bergantung kepada zaman ketika karakter tersebut diperkenalkan di Jepang. Akibatnya, sebagian besar karakter kanji memiliki lebih dari satu on'yomi. Kanji juga dikenal orang Jepang secara bertahap dan tidak langsung dilakukan pembakuan.
On'yomi dibagi menjadi 4 jenis:
* Go-on (呉音 ?, "ucapan Wu") adalah cara pengucapan dari daerah Wu di bagian selatan zaman Enam Dinasti Cina. Walaupun tidak pernah ditemukan bukti-bukti, ucapan Wu diperkirakan dibawa masuk ke Jepang melalui Semenanjung Korea dari abad ke-5 hingga abad ke-6. Ucapan Wu diperkirakan berasal dari cara membaca literatur agama Buddha yang diwariskan secara turun temurun sebelum diketahui cara membaca Kan-on (ucapan Han). Semuanya cara pengucapan sebelum Kan-on digolongkan sebagai Go-on walaupun mungkin saja berbeda zaman dan asal-usulnya bukan dari daerah Wu.
* Kan-on (漢音 ?, "ucapan Han") adalah cara pengucapan seperti dipelajari dari zaman Nara hingga zaman Heian oleh utusan Jepang ke Dinasti Tang dan biksu yang belajar ke Cina. Secara khusus, cara pengucapan yang ditiru adalah cara pengucapan orang Chang'an.
* Tō-on (唐音 ?, "ucapan Tang") adalah cara pengucapan karakter seperti dipelajari oleh biksu Zen antara zaman Kamakura dan zaman Muromachi yang belajar ke Dinasti Song, dan perdagangan dengan Cina.
* Kan'yō-on (慣用音 ?, "ucapan populer") adalah cara pengucapan on'yomi yang salah (tidak ada dalam bahasa Cina), tapi telah diterima sebagai kelaziman.
Kanji Arti Go-on Kan-on Tō-on Kan'yō-on
明 terang myō (明星 myōjō) mei (明暗 meian) (min)* (明国 minkoku) —
行 pergi gyō (行列 gyōretsu) kō (行動 kōdō) (an)* (行灯 andon) —
京 ibu kota kyō (京都Kyōto) kei (京阪 Keihan) kin (南京 Nankin) —
青 biru, hijau shō (緑青 rokushō) sei (青春 seishun) chin (青島 Chintao) -
清 murni shō (清浄 shōjō) sei (清潔 seiketsu) (shin)* (清国 Shinkoku) —
輸 mengirim (shu)* (shu)* — yu (運輸 un-yu)[3]
眠 tidur (men)* (ben)* — min (睡眠 suimin) [4]
Kamis, 03 Desember 2009
Dango (団子, Dango?) adalah kue Jepang berbentuk bulat seperti bola kecil, dan dimatangkan dengan cara dikukus atau direbus di dalam air. Adonan dango dibuat dari tepung beras yang diulen dengan air atau air panas. Kushidango adalah sebutan untuk sejumlah 3, 4, atau 5 butir dango yang ditusuk menjadi satu dengan tusukan (kushi) dari bambu. Jumlah butiran dango dalam satu tusuk bergantung pada daerahnya di Jepang.
Dango yang rasanya manis dibuat dengan menambahkan gula ke dalam adonan, sedangkan dango yang tidak manis dicelupkan ke dalam saus. Dango juga bisa dimakan dengan taburan bubuk kacang kedelai (kinako), dimasukkan ke dalam mitsumame (agar-agar yang dimakan bersama aneka buah kaleng) atau selai kacang merah yang diencerkan dengan air. Selain dari tepung beras, dango juga bisa dibuat dari tepung terigu atau tepung millet.
Dango (団子, Dango?) adalah kue Jepang berbentuk bulat seperti bola kecil, dan dimatangkan dengan cara dikukus atau direbus di dalam air. Adonan dango dibuat dari tepung beras yang diulen dengan air atau air panas. Kushidango adalah sebutan untuk sejumlah 3, 4, atau 5 butir dango yang ditusuk menjadi satu dengan tusukan (kushi) dari bambu. Jumlah butiran dango dalam satu tusuk bergantung pada daerahnya di Jepang.
Dango yang rasanya manis dibuat dengan menambahkan gula ke dalam adonan, sedangkan dango yang tidak manis dicelupkan ke dalam saus. Dango juga bisa dimakan dengan taburan bubuk kacang kedelai (kinako), dimasukkan ke dalam mitsumame (agar-agar yang dimakan bersama aneka buah kaleng) atau selai kacang merah yang diencerkan dengan air. Selain dari tepung beras, dango juga bisa dibuat dari tepung terigu atau tepung millet.
Saus
Saus untuk kushidango terdiri dari dua rasa:
Saus dari campuran kecap asin (saus) dengan air ditambah gula pasir, mirin, dan tepung kentang sebagai pengental.
Saus manis-asin merupakan saus yang paling umum untuk dango di berbagai daerah di Jepang.
Kecap asin
Kushidango dengan rasa kecap asin bisa dijumpai di Prefektur Gifu, daerah Tama di Tokyo, dan Iruma di Prefektur Saitama.
Variasi lain dari kushidango disajikan dengan berbagai macam olesan atau taburan:
Selai kacang merah
Bubuk kacang kedelai dan gula pasir
Selai kacang kedelai muda
Selai kacang walnut
Wijen dan gula pasir
Jenis dango
Mitarashi dango
KusadangoTsukimidango (dango melihat bulan)
Sejumlah daerah di Jepang menyusun butiran tsukimidango hingga berbentuk piramida.
Hamidango (dango sewaktu ohanami)
Kushidango dengan warna merah jambu, hijau, dan putih.
Yomogidango atau Kusadango
Dango yang dimakan bersama selai kacang merah, bubuk kedelai, dan gula.
Shiratama dango (dango bola putih)
Bulatan dango dari tepung beras yang dimasukkan ke dalam selai kacang merah yang diencerkan, atau dimakan bersama agar-agar dan buah kaleng.
Mitarashi dango
Sejumlah 3, 4 atau 5 butir dango ditusuk dengan tusukan bambu dan dipanggang lebih dulu sebelum dicelupkan ke dalam saus dari campuran kecap asin dan gula. Hanya di Prefektur Gifu, mitarashi dango dicelupkan dulu ke dalam saus sebelum dipanggang.
Kibidango
Dango dari tepung millet seperti yang dikisahkan dalam cerita rakyat Momotaro
Geisha (芸者"orang dari seni") adalah seniman-tradisional Jepang.Kata Geiko juga digunakan untuk menjelaskan orang tersebut. Geisha sangat umum pada abad 18 dan 19, dan masih dalam keberadaan hari ini, meskipun mereka adalah nomor dwindling. "Geisha," tegas / geɪ ʃa / ( "gay-Sha") adalah istilah yang paling akrab Bahasa Inggris ke speaker, dan yang paling umum digunakan di Jepun juga, tetapi di Kansai wilayah istilah dan geigi, untuk magang Geisha, " Maiko "juga telah digunakan sejak Restorasi Meiji. Istilah maiko hanya digunakan di Kyoto kabupaten. Inggris pengucapan gi ʃa ( "wah-Sha") atau frasa "Geisha gadis," selama Amerika umum pekerjaan dari Jepang, membawa konotasi prostitusi, seperti beberapa perempuan muda, nekat untuk uang dan menyebut dirinya "Geisha," dijual sendiri untuk pasukan Amerika.
Geisha tradisi yang berkembang dari taikomochi atau hōkan, jesters serupa ke pengadilan. " Geisha pertama adalah semua laki-laki; sebagai perempuan mulai mengambil peran mereka dikenal sebagai onna Geisha (女芸者), atau "artis wanita (perempuan formulir)." . Geisha hari ini secara perempuan, selain dari Taikomochi. Taikomochi yang sangat langka. Hanya tiga saat ini terdaftar di Jepang. Mereka cenderung jauh lebih mesum daripada Geisha. Tokoh-tokoh lain yang menyumbang kepada penciptaan modern yang Oiran Geisha, atau courtesans, dan Odoriko, menari perempuan. Odoriko khususnya yang dipengaruhi Geisha untuk menyertakan tari sebagai bagian dari seni daftar lagu-lagu mereka.
Geisha tradisional yang terlatih dari anak muda. Geisha sering membeli rumah perempuan muda dari keluarga miskin, dan mengambil tanggung jawab untuk meningkatkan dan pelatihan mereka. Selama anak mereka, sesuai Geisha pertama bekerja sebagai maids, maka sebagai asisten ke rumah Geisha's senior mereka sebagai bagian dari pelatihan dan memberikan kontribusi untuk biaya pemeliharaan dan pendidikan mereka. Ini lama-tradisi diadakan pelatihan masih ada di Jepang, di mana siswa tinggal di rumah seorang pemimpin dari beberapa seni, memulai melakukan pekerjaan rumah tangga dan pengawasan umum dan membantu master, dan akhirnya bergerak hingga menjadi tuan sendiri di kanan (lihat juga irezumi). Pelatihan ini sering berlangsung selama bertahun-tahun.
Program studi tradisional mulai dari usia muda dan meliputi berbagai seni, termasuk alat-alat musik Jepang (terutama shamisen) dan tradisional bentuk bernyanyi, tari tradisional, upacara teh, mengatur bunga (ikebana), puisi dan literatur. Dengan menonton dan membantu senior Geisha, mereka menjadi terampil di kompleks tradisi sekitarnya memilih, pencocokan, dan pakaian berharga scorpio, dan dalam berbagai permainan dan seni percakapan, dan juga dalam berurusan dengan klien.
Setelah seorang wanita menjadi magang Geisha (a maiko) dia akan mulai untuk menemani senior Geisha ke rumah teh, dan pihak banquets yang merupakan's a Geisha lingkungan kerja. Untuk beberapa hal, ini tradisional metode pelatihan berlangsung, walaupun ia adalah kebutuhan foreshortened. Geisha modern tidak lagi dibeli oleh atau dibawa ke rumah Geisha sebagai anak-anak. Menjadi Geisha sekarang sepenuhnya sukarela. Kebanyakan mereka mulai sekarang Geisha pelatihan di akhir umur belasan.
Apakah Geisha pelacur?
Sesungguhnya, tidak Geisha pelacur. Karena suatu hiburan laki-laki di belakang pintu tertutup di sebuah cara eksklusif, ada banyak spekulasi tentang underpinnings profesi mereka. Kebingungan yang seputar masalah ini telah rumit oleh Jepang pelacur yang ingin bersama-memilih yang prestise dari Geisha gambar, dan tidak akurat oleh depictions Geisha dari budaya populer di Barat.Meskipun Geisha dapat memilih untuk melakukan hubungan seksual dengan salah satu patrons dia, Geisha Jomblo tidak akan pernah melibatkan seks.
Geisha pertama tentang pelacur yang bernama Kako. Seiring dengan berjalannya waktu, ia menemukan bahwa ia tidak perlu terlibat di lampu merah-kabupaten.Kako secara langsung atau tidak langsung kepada ahli waris untuk banyak sekolah seni Jepang. Dia sendiri disebut a Geisha ( "seni-orang") dan mengucap diri untuk memberikan pertunjukan seni.
Kadang-kadang, a Geisha dapat memilih untuk mengambil danna (tua jaman untuk kata suami), yang biasanya adalah seorang laki-laki kaya yang memiliki cara untuk mendukung Geisha gundik. Meskipun a Geisha bisa jatuh cinta dengan danna, yang merupakan urusan customarily kontingen atas danna kemampuan finansial untuk mendukung Geisha gaya hidup. Konvensi tradisional dan nilai-nilai tersebut dalam hubungan yang sangat rumit dan tidak dipahami dengan baik, bahkan oleh banyak Jepang. Karena itu, benar intim peran serta Geisha tetap objek dari banyak spekulasi, dan sering salah, di Jepang maupun di luar negeri.
Sabtu, 28 November 2009
HARAJUKU adalah sebutan populer untuk kawasan di sekitar Stasiun JR Harajuku, Distrik Shibuya, Tokyo. Kawasan ini terkenal sebagai tempat anak-anak muda berkumpul. Lokasinya mencakup sekitar Meiji Jingu, Taman Yoyogi, pusat perbelanjaan Jalan Takeshita (Takeshita-dori), departement store Laforet, dan Gimnasium Nasional Yoyogi. Harajuku bukan sebutan resmi untuk nama tempat, dan tidak dicantumkan sewaktu menulis alamat. Sekitar tahun 1980-an, Harajuku merupakan tempat berkembangnya subkultur Takenoko-zoku. Sampai hari ini, kelompok anak muda berpakaian aneh bisa dijumpai di kawasan Harajuku. Selain itu, anak-anak sekolah dari berbagai pelosok di Jepang sering memasukkan Harajuku sebagai tujuan studi wisata sewaktu berkunjung ke Tokyo.
Sebetulnya sebutan "Harajuku" hanya digunakan untuk kawasan di sebelah utara Omotesando. Onden adalah nama kawasan di sebelah selatan Omotesando, namun nama tersebut tidak populer dan ikut disebut Harajuku.
Sebelum zaman Edo, Harajuku merupakan salah satu kota penginapan (juku) bagi orang yang bepergian melalui rute Jalan Utama Kamakura. Tokugawa Ieyasu menghadiahkan penguasaan Harajuku kepada ninja dari Provinsi Iga yang membantunya melarikan diri dari Sakai setelah terjadi Insiden Honnoji.
Di zaman Edo, kelompok ninja dari Iga mendirikan markas di Harajuku untuk melindungi kota Edo karena letaknya yang strategis di bagian selatan Jalan Utama Koshu. Selain ninja, samurai kelas Bakushin juga memilih untuk bertempat tinggal di Harajuku. Petani menanam padi di daerah tepi Sungai Shibuya, dan menggunakan kincir air untuk menggiling padi atau membuat tepung.
Di zaman Meiji, Harajuku dibangun sebagai kawasan penting yang menghubungkan kota Tokyo dengan wilayah sekelilingnya. Pada tahun 1906, Stasiun JR Harajuku dibuka sebagai bagian dari perluasan jalur kereta api Yamanote. Setelah itu, Omotesando (jalan utama ke kuil) dibangun pada tahun 1919 setelah kuil Meiji Jingu didirikan.
Setelah dibukanya berbagai department store pada tahun 1970-an, Harajuku menjadi pusat busana. Kawasan ini menjadi terkenal di seluruh Jepang setelah diliput majalah fesyen seperti Anan dan non-no. Pada waktu itu, kelompok gadis-gadis yang disebut Annon-zoku sering dijumpai berjalan-jalan di kawasan Harajuku. Gaya busana mereka meniru busana yang dikenakan model majalah Anan dan non-no.
Sekitar tahun 1980-an, Jalan Takeshita menjadi ramai karena orang ingin melihat Takenoko-zoku yang berdandan aneh dan menari di jalanan. Setelah ditetapkan sebagai kawasan khusus pejalan kaki, Harajuku menjadi tempat berkumpul favorit anak-anak muda. Setelah Harajuku makin ramai, butik yang menjual barang dari merek-merek terkenal mulai bermunculan di Omotesando sekitar tahun 1990-an.
Salon di Jepang thu mahal" kebanyakan (biasanya seh sekali potong rambut bisa habis 4000 - 6000 yen ato sekitar 400 ribu rupiah - 600 ribu rupiah), namun pelayanan salon itupun sesuai dengan harga yang mereka tawarkan, salon Jepang 180 derajat berbeda dari salon Indonesia, jika ada pelangggan ingin potong rambut maka pelanggan akan dipilihkan ke berbagai list stylist yang udah terpampang disitu, tiap stylist itu beda beda harganya dan stylistnya juga modis banget gayanya, jika pelanggan masuk di salon jepang pelanggan akan disambut ramah oleh yang punya salon, mereka akan menyilahkan anda untuk duduk di sofa yang didepannya meja (kalo anda antre ato anda cuman nganter), diatas meja banyak banget snack,koran,majalah yang siap dibaca, gag hanya itu mereka juga menemani anda ngobrol sembari menunggu pelanggan lain atau yang diantar, proses pemilihan style rambut juga mereka perhatikan, mereka gag sembarangan ngasi style, kalo mereka rasa gag cocok denganmu (style rambutnya) mereka akan ngasi tau kamu style rambut mana yang cocok buat jenis muka and kepalamu, kebanyakan yang bekerja di salon Jepang itu orangnya profesional jadi mereka gag main", cocok dah dengan harganya yang mahal pelayanannya juga memuaskan, sampe" kalo kamu pulang yang nyukur rambutmu akan nganter kamu mpe kasir buat bayar trus akan nganter kamu pulang sampe pintu n then bilang gini 'arigatou gozaimasu, mata irasshatte kudasai'(terimakasih banyak, kapan" datang lagi ya!), kadang kalo kamu belum ngilang di hadapannya si pencukur/stylist akan terus nunduk (ngasi hormat ala jepang gitu), ramah banget dah beda 100% ama salon di Indonesia,
Ikebana adalah seni merangkai bunga ala Jepang. Merangkai bunga Ikebana tidak hanya sekedar dan semudah menempatkan bunga2 kedalam Vas (container), akan tetapi merupakan bentuk disiplin seni dimana merupakan rangkaian yang hidup yang menyatu antara kejiwaan manusia dengan alam sekitarnya, dengan kata lain Ikebana adalah sebuah philosofi untuk lebih mendekat dengan alam.
Ikebana juga adalah sebuah ekspresi yang kreatif dalam bingkai aturan untuk membuat rangkaiannya. Materi yang digunakan antara lain ; ranting-ranting, daun-daun, bermacam-macam bunga dan rerumputan yang dirangkai sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah kombinasi warna, bentuk alamiah, dan lain-lain.
Dalam bahasa Jepang, Ikebana juga dikenal dengan istilah kadō (華道 ?, ka, bunga; do, jalan kehidupan) yang lebih menekankan pada aspek seni untuk mencapai kesempurnaan dalam merangkai bunga.
**SEJARAH IKEBANA**
Ikebana sebagai salah satu seni tradisional di Jepang sudah dikenal lebih dari 600 tahun yang lalu. Bermula sebagai acara ritual dari agama Budha dalam rangka memberikan persembahan bunga kepada arwah leluhur.
Sejak sekitar pertengahan abad ke-15, Ikebana berubah statusnya dari yang sebelumnya sebagai symbol keagamaan menjadi bentuk seni yang bebas. Yang kemudian lambat laun sejalan dengan perjalanan waktu, tumbuh sekolah-sekolah Ikebana, terjadi perubahan stile dan menjadi lebih sederhana untuk semua lapisan masyarakat Jepang.
**MACAM-MACAM ALIRAN IKEBANA**
Ada banyak aliran Ikebana di Jepang diantaranya yang dikenal adalah ; Chiko, Ichiyo, Ikenobo, Koryu, Kozan, Mishoryu, Ohara, Ryusei-Ha, Saga Goryu, Shinpa Seizan, Shofu Kadokai, Sogetsu, dll.
Saat ini yang ada di Indonesia serta resmi dan terdaftar pada The Japan Foundation, Jakarta ada 7(tujuh) Aliran yaitu ; Ichiyo, Ikenobo, Koryu, Mishoryu, Ohara, Sogetsu dan Shofu Kadokai.
**YUKATA**
Yukata (浴衣 ?, baju sesudah mandi) adalah jenis kimono yang dibuat dari bahan kain katun tipis tanpa pelapis. Dibuat dari kain yang mudah dilewati angin, yukata dipakai agar badan menjadi sejuk di sore hari atau sesudah mandi malam berendam dengan air panas.
Menurut urutan tingkat formalitas, yukata adalah kimono nonformal yang dipakai pria dan wanita pada kesempatan santai di musim panas, misalnya sewaktu melihat pesta kembang api, matsuri (ennichi), atau menari pada perayaan obon. Yukata dapat dipakai siapa saja tanpa mengenal status, wanita sudah menikah atau belum menikah.
Gerakan dasar yang harus dikuasai dalam nihon buyo selalu berkaitan dengan kimono. Ketika berlatih tari, penari mengenakan yukata sebagai pengganti kimono agar kimono berharga mahal tidak rusak karena keringat. Aktor kabuki mengenakan yukata ketika berdandan atau memerankan tokoh yang memakai yukata. Pegulat sumo memakai yukata sebelum dan sesudah bertanding.
Musim panas berarti musim pesta kembang api dan matsuri di Jepang. Jika terlihat orang memakai yukata, berarti tidak jauh dari tempat itu ada matsuri atau pesta kembang api.
**KIMONO**
Kimono (着物 ?) adalah pakaian tradisional Jepang. Arti harfiah kimono adalah baju atau sesuatu yang dikenakan (ki berarti pakai, dan mono berarti barang).
Pada zaman sekarang, kimono berbentuk seperti huruf "T", mirip mantel berlengan panjang dan berkerah. Panjang kimono dibuat hingga ke pergelangan kaki. Wanita mengenakan kimono berbentuk baju terusan, sementara pria mengenakan kimono berbentuk setelan. Kerah bagian kanan harus berada di bawah kerah bagian kiri. Sabuk kain yang disebut obi dililitkan di bagian perut/pinggang, dan diikat di bagian punggung. Alas kaki sewaktu mengenakan kimono adalah zōri atau geta.
Kimono sekarang ini lebih sering dikenakan wanita pada kesempatan istimewa. Wanita yang belum menikah mengenakan sejenis kimono yang disebut furisode.[1] Ciri khas furisode adalah lengan yang lebarnya hampir menyentuh lantai. Perempuan yang genap berusia 20 tahun mengenakan furisode untuk menghadiri seijin shiki. Pria mengenakan kimono pada pesta pernikahan, upacara minum teh, dan acara formal lainnya. Ketika tampil di luar arena sumo, pesumo profesional diharuskan mengenakan kimono.[2] Anak-anak mengenakan kimono ketika menghadiri perayaan Shichi-Go-San. Selain itu, kimono dikenakan pekerja bidang industri jasa dan pariwisata, pelayan wanita rumah makan tradisional (ryōtei) dan pegawai penginapan tradisional (ryokan).
Pakaian pengantin wanita tradisional Jepang (hanayome ishō) terdiri dari furisode dan uchikake (mantel yang dikenakan di atas furisode). Furisode untuk pengantin wanita berbeda dari furisode untuk wanita muda yang belum menikah. Bahan untuk furisode pengantin diberi motif yang dipercaya mengundang keberuntungan, seperti gambar burung jenjang. Warna furisode pengantin juga lebih cerah dibandingkan furisode biasa. Shiromuku adalah sebutan untuk baju pengantin wanita tradisional berupa furisode berwarna putih bersih dengan motif tenunan yang juga berwarna putih.
Sebagai pembeda dari pakaian Barat (yōfuku) yang dikenal sejak zaman Meiji, orang Jepang menyebut pakaian tradisional Jepang sebagai wafuku (和服 ?, pakaian Jepang). Sebelum dikenalnya pakaian Barat, semua pakaian yang dipakai orang Jepang disebut kimono. Sebutan lain untuk kimono adalah gofuku (呉服 ?). Istilah gofuku mulanya dipakai untuk menyebut pakaian orang negara Dong Wu (bahasa Jepang : negara Go) yang tiba di Jepang dari daratan Cina.
kebiasaan orang jepang di bulan september
0 komentar Diposkan oleh Rachel ransya di Sabtu, November 28, 2009Bulan september bagi orang Jepang adalah bulan yang berat, perubahan musim panas ke musim gugur pada bulan-bulan ini selalu diikuti dengan cuaca yang ekstrim seperti badai, topan dan lain sebagainya. Oleh karena itu bagi orang Jepang bulan september atau bulan sembilan adalah bulan yang ingin cepat dilewati, karena dalam budaya orang Jepang angka sembilan dibaca "ku" yang dekat dengan kata "kurushii" yang berarti sengasara.
Salah satu kebiasaan orang Jepang yang unik di bulan september yang notabene banyak terdapat badai adalah memasang boneka kain yang disebut dengan teru-teru bozu. Boneka ini dibuat kemudian digantung di depan rumah saat musim hujan badai dengan harapan badai atau hujan segera berlalu dan cuaca kembali cerah. Setelah badai atau hujan reda boneka kain tersebut kemudian diberi mata dan senyum. Kebiasaan ini sudah ada sejak dahulu kala dan terus berlangsung hingga sekarang.
Setahun yang lalu di Azumino Ikeda craft park, kota Ikeda perfektur Nagano, pernah diselenggarakan sebuah even kesenian yang bertajuk "Kita Alpes Teru-Teru Bozu Art Exhibition 1". Kendati ini adalah yang pertama kali, namun peserta yang emngikuti ini cukup banyak dan datang dari seluruh penjuru negeri. Terdapat 525 boneka teru-teru bozu dengan berbagai macam warna yang menarik. Acara yang unik ini tidak hanya mendapat perhatian masyarakat sekitar, namun beberapa radio nasional dan stasiun televisi nasional juga turut serta meliput acara ini.
Apa yang dikenal dalam bahasa Inggris sebagai upacara teh Jepang disebut sadō atau chadō (茶道, "jalan teh"), atau chanoyu (茶の湯, secara harfiah "air panas untuk teh") di Jepang. Ini adalah segi tradisional kegiatan yang matcha (抹茶), bubuk teh hijau, adalah ceremonially disiapkan dan disajikan. Zen Buddhisme adalah penting untuk perkembangannya, dan ini mempengaruhi banyak aspek pervades teh upacara.
Gathering Tea dikenal sebagai chakai (literally "teh rapat") atau chaji (literally "teh fungsi"). Biasanya istilah chakai digunakan untuk merujuk kepada yang relatif sederhana saja dari keramahan yang meliputi pelayanan confections, usucha (tipis teh), dan mungkin tenshin (cahaya snack), sedangkan chaji merujuk ke yang lebih formal termasuk mengumpulkan biasanya penuh makan saja disebut Kaiseki (懐石) atau lebih khusus cha-Kaiseki (茶懐石), diikuti oleh confections, koicha (teh kental), dan usucha (tipis teh). Chaji Mei selama lebih dari empat jam.
Sejarah
Menurut Nihon Chef (Latter Chronical dari Jepang), minum teh telah diperkenalkan ke Jepang pada abad 9., Oleh rahib Buddha Eichū (永忠), yang telah kembali ke Jepang dari China. Ini adalah pertama didokumentasikan bukti teh di Jepang. Entri dalam Nihon Koki Eichū menyatakan bahwa secara pribadi dan siap melayani "simmered tea" (煎茶, sencha) untuk Kaisar Saga yang pada tamasya di Karasaki (sekarang di Prefektur Shiga) pada tahun 815. Oleh imperial agar pada tahun 816, perkebunan teh mulai akan diolah di wilayah Kinki Jepang. Namun, dalam teh di Jepang setelah layu ini.
Di Cina, teh sudah diketahui, menurut legenda, selama lebih dari seribu tahun. Bentuk teh yang populer di Cina di era Eichū ketika pergi untuk studi adalah "batu bata teh" (団茶, dancha). Teh batu bata yang dibuat oleh uap dan ketukan daun, menekan ini menjadi molds, dan pengeringan ini sampai keras. Ini kemudian akan di tanah mortir, dan hasil tanah teh decocted bersama dengan berbagai tumbuh-tumbuhan dan / atau flavorings.
Kebiasaan dari minum teh, pertama untuk obat, dan kemudian juga sangat nyaman untuk alasan, telah meluas di seluruh Cina. Pada awal abad 9., Penulis Cina Lu Yu menulis Cha Jing (茶经, yang Classic of Tea), sebuah risalah pada teh fokus pada budidaya dan persiapan. Lu Yu kehidupan telah banyak dipengaruhi oleh Buddhisme, terutama Zen-chan sekolah. Nya ide akan memiliki pengaruh kuat dalam pengembangan dari Jepang upacara minum teh.
Sekitar akhir abad 12, dengan gaya persiapan teh disebut "tencha" (点茶), di mana bubuk teh ditempatkan dalam mangkuk, air panas dituangkan ke dalam mangkuk, dan air panas dan teh dikocok bersama, telah diperkenalkan oleh Eisai, Jepang rahib lain kembali dari China. Dia juga membawa teh bibit kembali dengan dia, yang akhirnya menghasilkan teh yang paling hebat yang berkualitas di seluruh Jepang.
Teh hijau bubuk ini pertama kali digunakan dalam ritual agama Budha di monasteries. Pada abad ke-13, ketika Minamoto (lihat Kamakura Bakufu) mendapatkan kontrol atas bangsa dari pemerintah dan samurai warrior kelas tertinggi memerintah, teh dan luxuries terkait dengan menjadi semacam simbol status di antara para pahlawan kelas, dan timbul "teh persaingan "(tōcha) dimana pihak kontestan dapat memenangkan hadiah untuk buar guessing kualitas terbaik teh - yang tumbuh di Kyoto, deriving dari Eisai bibit yang dibawa dari Cina.
Berikutnya utama dalam periode sejarah Jepang adalah Periode Muromachi, yang dengan kebangkitan budaya era dikenal sebagai Kitayama Bunka, centering sekitar elegan budaya dunia Ashikaga Yoshimitsu dan villa di sebelah utara dari bukit Kyoto. Periode ini budding melihat dari apa yang biasanya dianggap sebagai budaya tradisional Jepang seperti yang kita tahu hari ini.
Teh upacara dikembangkan sebagai "transformatif praktek", dan mulai berkembang sendiri estetika, khususnya yang wabi. Wabi, yang berarti tenang atau perbaikan bijaksana, atau rasa lemah, "yang dicirikan oleh kesederhanaan, pengendalian, kesederhanaan, naturalisme, kedalaman, ketidaksempurnaan, dan asymmetry [menekankan] sederhana, lugas dan objek arsitektur ruang, dan [merayakan] mellow kecantikan yang waktu itu dan perawatan untuk menyampaikan materi. " Murata Jukō dikenal dalam sejarah chanoyu sebagai pengembang awal tahun ini, dan karena itu biasanya dihitung sebagai pendiri dari Jepang" jalan teh. " Ia belajar di bawah Zen monk Ikkyū, yang merevitalisasi Zen di abad 15, dan ini dinilai telah mempengaruhi nya konsep chanoyu
Pada abad 16., Minum teh telah menyebar ke semua tingkat masyarakat di Jepang. Sen Rikyu tidak, mungkin yang paling terkenal dan masih revered-tokoh sejarah dalam upacara minum teh, diikuti his master, Takeno Joo's, konsep-Ichi go Ichi-e, sebuah filosofi bahwa setiap pertemuan harus treasured, karena tidak pernah akan direproduksi. Nya menyempurnakan ajaran baru banyak dikembangkan dalam bentuk arsitektur dan taman Jepang, seni dan diterapkan dengan baik, dan pengembangan penuh chadō, "yang" jalan teh ". Prinsip dia mengatur maju - harmoni (和, wa), Menghormati (敬, kei), kemurnian (清, sei), dan ketenangan (寂, jaku) - masih teh ke pusat upacara.
Banyak sekolah yang ada upacara minum teh Jepang berkembang melalui sejarah panjang dan sadō aktif hari ini.
Jumat, 20 November 2009
1. Tulang tengkorak terdiri dari:
a. Tulang tempurung kepala (os cranium)
• Tulang dahi (os frontale)
• Tulang kepala belakang (os occipitale)
• Tulang ubun-ubun (os parietale)
• Tulang tapis (os ethmoidale)
• Tulang baji (os sphenoidale)
• Tulang pelipis (os temporale)
b. tulang muka (os splanchocranium)
• Tulang hidung (os nasale)
• Tulang langit-langit (os pallatum)
• Tulang air mata (os lacrimale)
• Tulang rahang atas (os maxilla)
• Tulang rahang bawah (os mandibula)
• Tulang pipi (os zygomaticum)
• Tulang lidah (os hyoideum)
• Tulang pisau luku (os vomer)
2. Tulang dada (os sternum)
Tulang dada terdiri dari tiga bagian yaitu:
• hulu (os manubrium sterni)
• badan (os corpus sterni)
• taju pedang (os xiphoid prosesus)
3. Tulang rusuk (os costae)
• Tulang rusuk sejati (os costae vera)
• Tulang rusuk palsu (os costae sporia)
• Tulang rusuk melayang (os costae fluctuantes)
4. Tulang belakang (os vertebrae)
• Tulang leher (os cervical)
• Tulang punggung (os thoraxalis)
• Tulang pinggang (os lumbar)
• Tulang kelangkang (os sacrum)
• Tulang ekor (os cocigeus)
5. Tulang gelang bahu
• Tulang belikat (os scapula)
• Tulang selangka (os clavicula)
6. Tulang gelang panggul
• Tulang usus (os illium)
• Tulang pinggul (os pelvis)
• Tulang duduk (os ichium)
• Tulang kemaluan (os pubis)
Bagian apendikuler terdiri dari:
1. Tulang lengan
• Tulang lengan atas (os humerus)
• Tulang hasta (os ulna)
• Tulang pengumpil (os radius)
• Tulang pergelangan tangan (os carpal)
• Tulang telapak tangan (os metacarpal)
• Tulang jari tangan (os phalanges manus)
2. Tulang tungkai
• Tulang paha (os femur)
• Tulang tempurung lutut (os patella)
• Tulang kering (os tibia)
• Tulang betis (os fibula)
• Tulang pergelangan kaki (os tarsal)
• Tulang telapak kaki (os metatarsal)
• Tulang jari kaki (os phalanges pedis)
Kamis, 12 November 2009
1. wa (は)
wa menunjukkan Subyek si pembicara atau topik.
Watashi wa syain desu = わたしはしゃいんです = Saya adalah seorang karyawan.
2. mo (も)
mo memiliki fungsi yang sama dengan wa, menunjukkan pokok pembicaraan, tetapi mo dipakai untuk pokok yang predikatnya sama dengan yang sudah diketahui sebelumnya.
Takada-san wa nihon-jin desu = たかださんはにほんじんです= Sdr. Takada adalah orang Jepang.
Tamura-san mo nihon-jin desu. = たむらさんもにほんじんです= Sdr. Tamura juga orang Jepang.
3. ka (か) untuk bertanya
Untuk membuat kalimat tanya, ka diletakkan pada akhir kalimat, nada suara pada akhir kalimat ditinggikan.
Anata wa syain desu ka = あなたはしゃいんですか= Apakah anda seorang karyawan?
4. no (の)
no memiliki fungsi menghubungkan 2 K. Benda. K. Benda yang di depan menerangkan K. Benda yang di belakang. Hati-hati, biasanya kita suka terbalik-balik.
Watashi wa Batam-denki no syain desu = わたしはバタムでんきのしゃいんです= Saya adalah karyawan (dari) perusahaan listrik Batam.
Watashi wa Indonesia no daigakusei desu = わたしはインドネシアのだいがくせいです= Saya adalah mahasiswa (dari) Indonesia.
Berikutnya, kita kenali dengan baik penggunaan desu dan -san ya...
5. desu (です) atau dalam bahasa Inggrisnya: to be
desu adalah kata kerja yang paling dasar. Diletakkan di akhir kalimat yang predikatnya adalah K. Benda atau K. Sifat.
Watashi wa Indonesia-jin desu = わたしはインドネシアじんです= Saya orang Indonesia.
Indonesia wa shimaguni desu = インドネシアはしまぐにです= Indonesia adalah negara kepulauan.
6. san (さん)
san adalah kata yang selalu diucapkan setelah menyebut nama orang, tetapi ingat ya, san tidak pernah dipakai sewaktu menyebut nama sendiri.
Watashi wa Hanamura desu = わたしははなむらです= Saya Hanamura.
Anata wa Kitamura-san desu ka = あなたはきたむらさんですか= Apakah anda Sdr. Kitamura?
Oh iya, menyebut nama orang Jepang biasanya dipakai nama lengkap atau nama keluarga saja, sedangkan nama kecil hanya diucapkan oleh orang-orang dekat atau keluarga. Oke?
Yakuza dari bahasa Jepang: (やくざ atau ヤクザ) atau gokudō (極道) adalah nama dari sindikat terorganisir di Jepang. Organisasi ini sering juga disebut mafia Jepang, karena ada kesamaan dengan bentuk organisasi yang asalnya dari Italia tersebut.
Sejarah Yakuza
Sejarah panjang Yakuza dimulai kira-kira pada tahun 1612, saat Shogun Tokugawa berkuasa dan menyingkirkan shogun sebelumnya. Pergantian ini mengakibatkan kira-kira 500.000 orang samurai yang sebelumnya disebut hatomo-yakko (pelayan shogun) menjadi kehilangan tuan, atau disebut sebagai kaum ronin.
Seperti kata pepatah : orang yang hanya punya martil cenderung melihat segala sesuatu bisa beres dengan dimartil, demikian juga dengan kaum ronin ini. Banyak dari mereka menjadi penjahat dan centeng. Mereka disebut sebagai kabuki-mono atau samurai nyentrik urakan yang ke mana-mana membawa pedang. Mereka berbicara satu sama lain dalam bahasa slang dan kode rahasia. Terdapat kesetiaan tinggi di antara sesama ronin sehingga kelompok ini sulit dibasmi.
Untuk melindungi kota dari para kabuki-mono, banyak kota-kota kecil di Jepang membentuk machi-yokko (satuan tugas (satgas) desa). Satgas ini terdiri dari para pedagang, pegawai, dan orang biasa yang mau menyumbangkan tenaganya untuk menghadapi kaum kabuki-mono. Walaupun mereka kurang terlatih dan jumlahnya sedikit, tetapi ternyata para anggota machi-yokko ini sanggup menjaga daerah mereka dari serangan para kabuki mono. Di kalangan rakyat Jepang abad ke 17, kaum machi-yokko ini dianggap seperti pahlawan.
Masalah jadi rumit, karena setelah berhasil menggulung para ronin, para anggota machi-yokko ini malah meninggalkan profesi awal mereka dan memilih jadi preman. Hal ini diperparah lagi dengan turut campurnya Shogun dalam memelihara para machi-yokko ini. Ada dua kelas profesi para machi-yokko, yaitu kaum Bakuto (penjudi) dan Tekiya (pedagang). Namanya saja kaum pedagang tetapi pada kenyataannya, kaum Tekiya ini suka menipu dan memeras sesama pedagang. Walau begitu, kaum ini punya sistem kekerabatan yang kuat. Ada hubungan kuat antara Oyabun (Bos (bapak)) dan Kobun (bawahan (anak)), serta Senpai-Kohai (Senior-Junior) yang kemudian menjadi kental di organisasi Yakuza.
Penjudi
Kaum Bakuto (penjudi), punya sejarah yang unik. Awalnya mereka disewa oleh Shogun untuk berjudi melawan para pegawai konstruksi dan irigasi. Tindakan ini dilakukan agar gaji para pegawai konstruksi dan irigasi habis di meja judi dan tenaga mereka bisa disewa dengan harga murah.
Jenis judi yang biasa dilakukan adalah menggunakan kartu Hanafuda dengan sistem permainan mirip Black Jack. Tiga kartu dibagikan dan bila angka kartu dijumlahkan, maka angka terakhir menunjukkan siapa pemenang, diantara sekian banyak kartu sial kartu berjumlah 20 adalah yang paling sering disumpahi orang, karena berakhiran nol. Salah satu konfigurasi kartu ini adalah kartu dengan nilai (8-9-3) yang dalam bahasa Jepang menjadi Ya-Ku-Za yang kemudian menjadi nama asal Yakuza.
Dari kaum Bakuto ini juga muncul tradisi menandai diri dengan [[tato] disekujur badan (disebut irezumi) dan yubitsume (potong jari) sebagai bentuk penyesalan ataupun sebagai hukuman. Awalnya hukuman ini bersifat simbolik, karena ruas atas jari kelingking yang dipotong membuat pemilik tangan menjadi lebih sulit memegang pedang dengan mantap. Hal ini menjadi simbol ketaatan terhadap pimpinan.
Samurai (侍 atau 士 ) adalah istilah untuk perwira militer kelas elit sebelum zaman industrialisasi di Jepang. Kata "samurai" berasal dari kata kerja "samorau" asal bahasa Jepang kuno, berubah menjadi "saburau" yang berarti "melayani", dan akhirnya menjadi "samurai" yang bekerja sebagai pelayan bagi sang majikan.
Istilah yang lebih tepat adalah bushi (武士) (istilah harafiahnya: "orang bersenjata") yang digunakan semasa zaman Edo. Bagaimanapun, istilah samurai digunakan untuk prajurit elit dari kalangan bangsawan, dan bukan contohnya, ashigaru atau tentara berjalan kaki. Samurai yang tidak terikat dengan klan atau bekerja untuk majikan (daimyo) disebut ronin (harafiah: "orang ombak"). Samurai yang bertugas di wilayah han disebut hanshi.
Samurai dianggap mesti bersopan dan terpelajar, dan semasa Keshogunan Tokugawa berangsur-angsur kehilangan fungsi ketentaraan mereka. Pada akhir era Tokugawa, samurai secara umumnya adalah kakitangan umum bagi daimyo, dengan pedang mereka hanya untuk tujuan istiadat. Dengan reformasi Meiji pada akhir abad ke-19, samurai dihapuskan sebagai kelas berbeda dan digantikan dengan tentara nasional menyerupai negara Barat. Bagaimanapun juga, sifat samurai yang ketat yang dikenal sebagai bushido masih tetap ada dalam masyarakat Jepang masa kini, sebagaimana aspek cara hidup mereka yang lain.
Perkataan samurai berasal pada sebelum zaman Heian di Jepang di mana bila seseorang disebut sebagai saburai, itu berarti dia adalah seorang suruhan atau pengikut. Hanya pada awal zaman modern, khususnya pada era Azuchi-Momoyama dan awal periode/era Edo pada akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17 perkataan saburai bertukar diganti dengan perkataan samurai. Bagaimanapun, pada masa itu, artinya telah lama berubah.
Pada era pemerintahan samurai, istilah awal yumitori (“pemanah”) juga digunakan sebagai gelar kehormat bagi sejumlah kecil panglima perang, walaupun pemain pedang telah menjadi lebih penting. Pemanah Jepang (kyujutsu), masih berkaitan erat dengan dewa perang Hachiman.
Berikut adalah beberapa istilah lain samurai.
* Buke (武家) – Ahli bela diri
* Kabukimono - Perkataan dari kabuku atau condong, ia merujuk kepada gaya samurai berwarna-warni.
* Mononofu (もののふ) - Istilah silam yang berarti panglima.
* Musha (武者) - Bentuk ringkasan Bugeisha (武芸者), harafiah. pakar bela diri.
* Si (士) - Huruf kanji pengganti samurai.
* Tsuwamono (兵) - Istilah silam bagi tentara yang ditonjolkan oleh Matsuo Basho dalam haiku terkemukanya. Arti harafiahnya adalah orang kuat.
Meskipun dikatakan terdapat lebih dari 50.000 huruf Kanji, tetapi dalam penggunaan bahasa Jepang tidak semua huruf tersebut digunakan. Saat ini ada sekitar 1945 huruf Kanji yang digunakan secara umum dalam kehidupan sehari-hari di Jepang.
Saat ini siswa-siswi Sekolah Dasar (SD) di Jepang diwajibkan untuk mempelajari sebanyak 1006 huruf Kanji sejak kelas 1 sampai dengan kelas 6 atau selama 6 tahun.
Sedangkan bagi orang asing, untuk mengetahui tingkat kemampuan menguasai huruf Kanji terdapat sebuah tes kemampuan berbahasa Jepang atau biasa disebut Japanese Language Proficiency Test (JLPT) . Tes yang memfokuskan diri pada penguasaan membaca, perbendaharaan kata, mendengarkan, pemahaman huruf Kanji dan tata bahasa ini bisa dilakukan di kota-kota besar di Jepang ataupun di negara-negara di luar Jepang.
Jumlah huruf Kanji yang harus dikuasai oleh orang asing kira-kira sama dengan yang biasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari yaitu sebanyak 2000 huruf.
Pemahaman dan penguasaan huruf Kanji siswa SD di Jepang:
Kelas 1 - 80 huruf
Kelas 2 - 160 huruf
Kelas 3 - 200 huruf
Kelas 4 - 200 huruf
Kelas 5 - 185 huruf
Kelas 6 - 181 huruf
Target Pemahaman dan penguasaan huruf Kanji bagi orang asing dalam JLPT(Nihongo noryoku shiken):
Level 4 - 100 huruf
Level 3 - 300 huruf
Level 2 - 1000 huruf
Level 1 - 2000 huruf
Dikatakan bahwa untuk mulai bisa membaca surat kabar atau majalah berbahasa Jepang, diperlukan lebih dari penguasaan 800 huruf Kanji.
Wow, bagi orang asing tentunya ini tidak mudah, perlu kemauan untuk belajar ekstra keras.
Yuk belajar huruf Kanji...
わたし = watashi = saya
あなた = anata = anda, saudara
わたしたち = watashi-tachi = kami, kita
かれ = kare = dia (laki-laki)
かのじょ = kanojyo = dia (perempuan)
みなさん = minasan = saudara sekalian, anda sekalian
あのひと = ano hito = orang itu, dia
せんせい = sensei = guru
しゃいん = syain = karyawan, pekerja
だいがくせい = daigakusei = mahasiswa
けんしゅうせい = kenshyuusei = trainee, peserta training
がっこう = gakkou = sekolah
かいしゃ = kaisya = perusahaan
バナナ = banana = pisang
ラジオ = rajio = radio
たべます = tabemasu = makan
ききます = kikimasu = mendengar
だれ = dare = siapa
はい = hai = ya
いいえ = iie = tidak, bukan
でんき = denki = listrik, lampu
にほん = nihon = Jepang
にほんご = nihongo = bahasa Jepang
インドネシア = indoneshia = Indonesia
~じん = ~jin = orang~ (kebangsaan, daerah)
きのう = kinou = kemarin
きょう = kyou = hari ini
あした = ashita = besok
あさって = asatte = besok lusa
おはようございます = ohayou gozaimasu = selamat pagi
こんにちは = konnichiwa = selamat siang, halo
こんばんは = konbanwa = selamat malam
おやすみなさい = oyasuminasai = selamat istirahat, selamat tidur
さよなら = sayonara = selamat tinggal
ありがとうございました = arigatou gozaimashita = terima kasih
どういたしまして = douita shimashite = terima kasih kembali
すみません = sumimasen = maaf, permisi, terima kasih
はじめまして = hajimemashite = "Saya bertemu dengan anda yang pertama kalinya" (diucapkan pada waktu perkenalan / pertama kali bertemu)
どうぞよろしく = douzo yoroshiku = "Terimalah perkenalan saya dengan baik" (diucapkan pada saat mengakhiri perkenalan)






